Rahasia "517" ►► Selamat Datang Di Blog Kami "517" Blognya Para Pecinta Tasawuf, Sejarah Serta Penebar Cinta Kasih

Wednesday, May 22, 2013

Grand Shaikh Al-Azhar: Keterlibatan Kanal Islami Dalam Konflik Politik Rugikan Islam

Grand Shaikh Al-Azhar Prof. DR. Ahmad Thayeb menegaskan bahwa saat ini merupakan kesempatan emas bagi Al-Azhar untuk bekerja dengan seluruh kemampuannya demi mengembalikan kejayaannya di masa lalu. Beliau juga menegaskan bahwa Al-Azhar tidak akan mungkin berkhianat terhadap agama dan syariat Allah SWT.. Pasca kunjungannya ke Uni Emirat Arab, beliau mengatakan bahwasanya bukan tugas Dewan Ulama Senior untuk setuju atau tidak terhadap setiap draft undang-undang yang akan disahkan di Mesir. Akan tetapi, tugas Dewan Ulama Senior adalah menjelaskan kepada umat apakah draft suatu undang-undang sesuai dengan syariat Islam atau tidak. Beliau juga mengisyaratkan bahwa sebagian poin dari draft undang-undang sukuk (obligasi) yang diajukan oleh MPR Mesir sesuai dengan syariat, namun sebagian poin yang lain tidak sesuai dengan syariat. Dan Dewan Ulama Senior memberikan syarat-syarat dalam draft undang-undang sukuk tersebut agar tidak mengganggu aset-aset fundamental milik negara.

Grand Shaikh Al-Azhar juga menegaskan bahwa Mesir tidak akan terjebak dalam perang saudara. Menggunakan slogan-slogan agama dalam berkampanye merupakan tindakan yang bertentangan dengan Islam dan sistem demokrasi yang benar, serta akan menghancurkan sistem demokrasi itu sendiri. Demikian juga masuknya kanal-kanal televisi islami ke dalam pusaran perang politik dapat membahayakan Islam sendiri. Karena, kanal-kanal tersebut tidak menjaga kemuliaan Islam dan malah membuatnya menjadi obyek pembicaraan tanpa etika di kalangan masyarakat.
Sepulang Grand Shaikh Al-Azhar dari kunjungannya ke luar negeri, mingguan Shaut Al-Azhar berhasil mengadakan wawancara eksklusif dengan beliau. Berikut ini wawancara tersebut yang telah dialih-bahasakan oleh redaksi mosleminfo.com:
A: Dunia Arab dan Islam sangat bangga dengan terpilihnya DR. Ahmad Thayeb sebagai Man of The Year dalam Zaid Award untuk tahun ini. Bagaimana menurut Anda tentang pemilihan ini? Dan apa artinya bagi Anda pribadi?
B: Menurut saya, pemilihan ini merupakan sebuah apresiasi tinggi atas peran besar Al-Azhar asy-Syarif yang merupakan rujukan utama umat Islam. Al-Azhar merupakan instansi yang menjadi tempat umat Islam mengungkapkan segala mimpi dan harapannya, serta penjaga nilai-nilai akhlak dan identitasnya. Sedangkan artinya bagi saya pribadi, ini merupakan penghargaan untuk semua nilai luhur tersebut dalam kehidupan umat Islam.
A: Zaid Center yang bergerak dalam pengajaran bahasa Arab bagi pelajar non-Arab di Al-Azhar, telah berhasil memberikan manfaat riil sejak pendiriannya. Bagaimana Anda melihat peran Zaid Center ini? Menurut Anda, apa cara terbaik untuk meningkatkan perannya dalam menjaga bahasa Arab? Adakah rencana ke depan untuk mengembangkan visi dan misi Zaid Center ini di kawasan Arab dan negara-negara luar lain?
B: Adanya Zaid Center yang bergerak di bidang pengajaran bahasa Arab bagi pelajar non-Arab di Al-Azhar, merupakan salah satu bentuk kerjasama yang positif dan efektif antara Al-Azhar dan semua pihak yang bekerja untuk menghidupkan peradaban Islam dari sisi bahasa, syariat, dan ilmu pengetahuan, khususnya, almarhum Syekh Zaid bin Sulthan Alu Nahyan yang telah meninggalkan hal positif di setiap negara. Dalam keyakinan saya, kinerja Zaid Center merupakan pelopor yang memiliki banyak manfaat dalam menciptakan jembatan penghubung yang aktif dan positif di kalangan umat Islam sendiri, dan antara umat Islam dengan umat lainnya saat perbedaan bahasa sudah tidak lagi menjadi problem.
A. Di dunia Islam saat ini muncul berbagai aliran pemikiran yang di antaranya bercorak ekstrim (ghuluw) dan radikal. Banyak pihak sangat mengharapkan Al-Azhar dapat membendung aliran-aliran keras seperti ini. Adakah target-target yang ingin direalisasikan oleh Al-Azhar untuk keperluan tersebut?
B. Moderatisme adalah manhaj yang diusung oleh Al-Azhar sepanjang sejarahnya. Sedangkan radikalisme sendiri adalah produk musuh-musuh Islam, yang tentu saja tidak diakui oleh Al-Azhar. Dan ini selaras dengan pandangan Islam bahwa dunia ini adalah tempat untuk saling tolong-menolong, saling mengenal, bertukar fikiran dan manfaat, dan bukan sebagai tempat untuk berselisih yang bisa menghilangkan potensi-potensi manusia. Dan Al-Azhar dengan segenap ulamanya berdiri di garda terdepan dalam rangka membendung kelompok-kelompok yang mengedepankan kekerasan, radikalisme dan ekstrimisme. Al-Azhar juga berusaha dengan segala kemampuannya untuk memperbaiki citra Islam ke dunia luar. Sedangkan untuk ke dalam sendiri, Al-Azhar selalu memperkuat aktifitas-aktifitas yang bersifat ilmiah dan edukatif. Dan dari sinilah Al-Azhar mendirikan Pusat Dialog dan Baitul-`A’ilah yang selalu terbuka bagi duta-duta asing yang datang dari Timur maupun Barat yang ingin memahami Islam. Jadi Moderatisme Islam terhitung sebagai manhaj yang benar yang menjadi tempat bertemunya nilai-nilai universal yang ada dalam semua agama.
A. Al-Azhar selalu dianggap sebagai simbol Islam moderat dalam dunia Islam dan terus menyebarkan nilai-nilai toleransi, kerukunan dan dialog. Namun selalu ada kesulitan dan kendala yang kemungkinkan dapat menggagalkan peran tersebut. Menurut Anda, bagaimana cara mengokohkan peran Al-Azhar tersebut?
B. Budaya toleransi dan kerukunan bagi Al-Azhar bukan sekedar slogan. Namun, Al-Azhar telah merealisasikannya ke dalam bentuk kerja kelembagaan di Pusat Dialog dan Bait al-`A’ilah, memberikan kesempatan bagi siapa saja yang concern terhadap tema ini serta mengakomodasi berbagai pendapat yang berbeda-beda. Karena, motto kami di Al-Azhar adalah terbuka bagi alam yang selalu berubah dan mengakomodasi berbagai pendapat yang bermacam-macam. Dan langkah kami diawali dengan pemahaman yang benar, dalam rangka menuju kesepahaman yang dicita-citakan bersama. Dan yang penting, saat ini Al-Azhar terlibat langsung dalam jantung gerakan reformasi, baik yang sifatnya lokal, regional maupun Internasional seperti yang bisa kita lihat bersama.
A. Anda telah menawarkan apa yang disebut dengan inisiatif penghentian aksi kekerasan dan dialog nasional, akan tetapi pada akhirnya kekerasan tetap saja tidak hilang dan dialog pun tidak terealisasi?
B. Tentunya bukan Al-Azhar yang bertanggung jawab akan hal tersebut. Karena Al-Azhar telah menunaikan peran besar dalam skala nasional pada fase-fase terakhir ini. Al-Azhar juga mengeluarkan sejumlah piagam, di antaranya adalah piagam “Penghapusan Aksi Kekerasan”. Bukti terkuat bagi orang yang ingin mengetahui besarnya nilai upaya Al-Azhar dalam hal ini adalah bertemunya semua partai, kelompok dan para pemuda revolusi Mesir, baik itu Ikhwanul Muslimin, Salafi dan orang-orang sekuler, di bawah naungan Al-Azhar dan duduk di meja dialog untuk bertemu dalam satu kesepakatan. Dahulu tercapai kesepahaman dan kesepakatan. Dan hingga saat ini semua masih memegang kesepakatan tersebut, akan tetapi timingnya saat ini bisa jadi kurang pas untuk merealisasikan poin-poin yang dicapai dalam kesepakatan tersebut. Atau sebenarnya timingnya pas, namun kemungkinan kecenderungan dan prinsip-prinsip yang ada di dalam partai dan aliran menjadi kendala.
A : Sebagian pengamat berpendapat bahwa Al-Azhar menjadi target sasaran beberapa kelompok. Dan insiden keracunan yang menimpa sebagian pelajar serta adanya demonstrasi yang mendukung Al-Azhar dan Grand Shaikh Al-Azhar menguatkan hal ini. Bagaimana menurut pengamatan Anda?
B: Ada dua poin yang perlu diperhatikan dari kejadian tersebut. Pertama, para mahasiswa terkejut dengan keracunan yang menimpa teman-teman mereka sehingga mereka marah dan menggelar demonstrasi. Mungkin di antara mereka ada yang melampaui batas dalam melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya mereka lakukan, akan tetapi al-Azhar dengan sigap segera mengambil tindakan dengan melaporkan beberapa pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini kepada pengadilan. Kedua, saya tidak memprediksikan sama sekali akan terjadi demonstrasi di seluruh propinsi yang mendukung Al-Azhar.
A: Sebagian kalangan mengatakan bahwa Al-Azhar telah melakukan kompromi untuk meloloskan undang-undang sukuk (obligasi)?
B: Al-Azhar tidak akan pernah menyembunyikan sesuatupun dari syariat Allah. Dan ungkapan “kompromi” ini harus diralat, karena kami telah menolak sepenuhnya draft undang-undang tersebut pada kesempatan yang pertama. Andaikan kami orang-orang yang bisa diajak berkompromi serta mau membuat kontrak-kontrak tertentu, niscaya kami akan menyetujuinya. Pada kesempatan kedua, Presiden Muhamad Mursi sendiri yang meminta agar draft undang-undang tersebut diajukan terlebih dahulu kepada Dewan Ulana Senior Al-Azhar, karena MPR tidak mengajukannya. Tentunya bukan tugas Dewan Ulama Senior untuk menyetujui atau tidak draft undang-undang. Kami hanya menyampaikan pendapat apakah suatu undang-undang sesuai dengan syariat Islam atau tidak. Dan kami melihat bahwa beberapa bagian draft dari undang-undang tersebut sesuai dengan syariah, namun beberapa bagian lainnya tidak sesuai. Dalam waktu yang sama, Dewan Ulama Senior juga menegaskan dan mensyaratkan agar rancangan undang-undang tersebut jangan sampai menyentuh aset-aset fundamental milik negara.
A: Usaha Anda yang tak kenal lelah untuk merealisasikan independensi Al-Azhar sebagai sebuah entitas Islam dan menara peradaban serta kelimuan sejak 1402 tahun lalu tidak lepas dari kendala. Apakah capaian saat ini sudah membuat Anda puas? Ataukah ada langkah-langkah baru yang akan ditempuh untuk merealisasikan tujuan di atas?
B. Sesungguhnya keinginan kami untuk merealisasikan independensi Al-Azhar, secara jelas telah kami tuangkan dalam amandemen undang-undang Al-Azhar yang terakhir. Di antara buah dari amandemen ini adalah kembalinya peran Dewan Ulama Senior kepada pentas keilmuan dan pentas nasional di Mesir. Juga, pemilihan yang dilakukan secara bebas sebagai satu-satunya cara untuk memilih Grand Shaikh Al-Azhar dalam rangka mendukung independensi Al-Azhar. Hal ini juga tertuang dengan jelas di dalam undang-undang Al-Azhar yang baru, dan ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah perundang-undangan Mesir. Hal yang sama juga berlaku dalam pemilihan Mufti Negara, yaitu dilakukan cara dipilih langsung oleh Dewan Ulama Senior Al-Azhar. Dan pemilihan mufti yang baru pun telah dilaksanakan sesuai dengan undang-undang yang baru tersebut. Saat ini juga masih berlangsung fase awal pengembangan pendidikan Al-Azhar pada sekolah-sekolah dasar dan menengah agama serta pada tingkat universitas. Dan cita-cita kami tidak terhenti pada satu batas tertentu. Iya, tentunya terdapat kendala-kendala, akan tetapi proses kebangkitan saat ini telah dimulai dan dengan izin Allah ia akan terus berjalan.
A. Sejak dua tahun terakhir, Anda menekankan bahwa Al-Azhar sebagai institusi sedang mengalami kelemahan. Bagaimana Anda melihatnya saat ini?
B. Al-Azhar seperti institusi lainnya di dunia Arab, semuanya sedang mengalami kelemahan. Dan ketika Al-Azhar dipinggirkan, ia akan mengalami kelemahan. Akan tetapi sekarang adalah kesempatan yang tepat bagi Al-Azhar untuk mengembalikan kekuatannya dan bekerja dengan segenap kemampuannya untuk mengembalikan posisinya.
A. Apakah Anda tidak melihat bahwa Al-Azhar menghadapi banyak tantangan dari kelompok-kelompok Islam?
B. Di Mesir dan dunia Arab secara umum terdapat kelompok yang mendukung Al-Azhar; baik salafi, sekuler, ikhwan dan partai-partai politik. Bukankah dukungan ini adalah dorongan bagi Al-Azhar untuk meneruskan perjuangannya. Jika memang ada dari mereka yang menentang Al-Azhar, tentu dia tidak akan pernah datang ke Al-Azhar untuk melakukan rekonsialiasi, duduk bersama dan menyetujui apa yang diusulkan oleh Al-Azhar.
A. Ada orang yang menegaskan bahwa pada masa-masa mendatang Mesir akan dilanda konflik sektarian. Bagaimana menurut pendapat Anda?
B. Insya Allah Mesir tidak akan mengalami konflik agama atau sektarian. Sejarah adalah sebaik-baik bukti dan saksi atas hal ini. Sejak Islam memasuki Mesir 1400 tahun silam, sejarah tidak pernah mencatat peperangan atau konflik antara Muslimin dan orang-orang Koptik (Krsiten Ortodok Mesir). Meskipun demikian, saya memilih untuk sangat berhati-hait menggunakan kata “fitnah/kekacauan” dan “kekerasan sektarian”. Karena semua yang terjadi di Mesir adalah problem sosial, tidak ada konflik antara agama. Namun permasalahannya adalah penggunaan agama dalam konflik-konflik yang terjadi. Dan ada sebagian orang yang selalu menjadikan setiap konflik sosial yang terjadi sebagai tanggung jawab agama Islam dan Kristen.
A. Apakah Anda mempertaruhkan percobaan “Bait Al-‘├éilah” (Family House) sebagai solusi bagi konflik-konflik seperti ini?
B. Ya tentunya. Saya mempertaruhkan percobaan Bait al-‘├éilah (Family House). Akan tetapi butuh waktu untuk merubah kesadaran sosial masyarakat. Karena konflik-konflik semacam itu, ketika menggunakan simbol agama, akan lebih mudah menyulut emosi orang-orang. Terdapat sejumlah komite yang sudah hampir lima tahun terjun ke lapangan untuk menyadarkan masyarakat agar tidak menjadikan simbol-simbol agama sebagai sumber konflik. Jika hal ini terealisasi maka kekerasan akan hilang. Akan tetapi, perlu saya isyaratkan di sini bahwa ada pihak-pihak yang bekerja di balik layar dengan pikiran keji yang menginginkan keburukan Mesir dari pintu ini; baik Muslim atau Kristen, Ahlus Sunnah atau syi’ah.
A. Sebagian kanal agama melibatkan diri dalam konflik politik. Bagaiaman Anda melihat fenomena ini?
B. Saya menganggap terlibatnya kanal-kanal televisi agama dalam konflik politik akan merugikan Islam. Karena dengan hal itu kanal-kanal tersebut tidak memperhatikan kemuliaan Islam dan membuat Islam menjadi obyek pembicaraan tanpa etika dari orang-orang.
A. Di mana kontrol Al-Azhar terhadap fatwa-fatwa kontroversial? Kenapa Al Azhar tidak menuntut dibuatnya undang-undangkan yang dapat mencegah keluarnya fatwa-fatwa kontroversial tersebut?
B. Realitanya, media swasta berada di luar kontrol Al-Azhar dan yang lainnya. Memang bisa jadi media tersebut memiliki kecendrungan yang tidak sesuai dengan maslahat agama dan negara. Namun, kami tidak dapat memaksakan kehendak kami kepada orang lain. Adapun TV Azhar, yang insya Allah akan diluncurkan dalam waktu dekat, akan membantah semua fatwa nyeleneh yang telah menyimpang dari jalan yang benar. Juga akan membantah setiap orang yang berfatwa tanpa berdasarkan ilmu. Dan kami tidak akan menghabiskan energi untuk meladeni perang media, namun kami akan menjelaskan hukum Islam pada setiap pertanyaan yang diajukan. Kami yakin bahwa pembelajaran dan pemberian pemahaman adalah dua sarana prefentif yang tepat.
A. Kita kembali ke masalah kunjungan Presiden Iran ke Al-Azhar?
B. Pertemuan yang berlangsung dengan presiden Iran di Al-Azhar adalah dialog lepas, tanpa batasan tema tertentu. Setiap pihak dari kami mengutarakan apa yang ingin dia utarakan secara bebas. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Iran menyampaikan pendapatnya secara bebas sebagai seorang presiden negara Syiah terbesar. Dia juga menggunakan istilah-istilah Syiah selama pertemuan tersebut. Dan kami juga berhak untuk mengungkapkan sikap Ahlus sunnah, karena Al-Azhar adalah rujukan Ahlus sunnah dan Al-Azhar mempunyai kewajiban yang merupakan amanah dari seluruh kaum muslimin Sunni. Kami sudah sering mendengar penghinaan terhadap sahabat dan Sayyidah Aisyah di stasiun-stasiun televisi Syiah. Kami juga sering mendengarnya langsung dari para ulama-ulama mereka. Dengan demikian, wajib bagi kami untuk memanfaatkan momen kunjungan presiden Iran ke Al-Azhar tersebut untuk menutup jurang pemisah antara Sunni dan Syiah. Namun yang kami sayangkan, sampai saat ini kami belum menemukan indikasi-indikasi positif, padahal kami sudah sepakat bahwa Syiah perlu melangkah lebih dekat ke arah Ahlus Sunnah. Jika jurang pemisah ini tidak ditutup, maka ia akan menjadi kesempatan emas bagi pihak-pihak asing untuk menjalankan agenda-agenda jahatnya.
A. Bagaimana usaha Al-Azhar dalam menghadang setiap upaya penyebaran faham Syiah?
B. Al-Azhar tidak memusuhi siapapun dari Ahlul Qiblat. Tetapi, kami menentang penyebaran mazhab Syiah di negara-negara Arab secara umum, dan di Mesir secara khusus. Kami menganggap itu sebagai pelanggaran bagi kesatuan akidah dan fikih di Mesir. Kami juga menganggapnya sebagai agresi terhadap mazhab Sunni yang merupakan mazhab mayoritas umat Islam di dunia. Dan kami nyatakan secara terus terang dan tanpa basa-basi, bahwa kami akan menghadapi segala bentuk upaya yang ingin menembus kantong-kantong Ahlu Sunnah di negara-negara Arab dan negara-negara Islam pada umumnya. Dan kami menganggap upaya penyebaran Syiah tersebut ibarat bermain api di wilayah yang mengalami ketegangan dan dilanda banyak problem. Masyarakat Mesir dalam sejarahnya, tidak -dan selamanya tidak akan pernah- berubah menjadi masyarakat Syiah. Semua klaim yang bertentangan dengan ini hanyalah khayalan yang ada di otak belaka, karena ia bertentangan dengan fakta sejarah, juga bertentangan dengan hakikat dan realita.
A. Apakah Al-Azhar khawatir dengan upaya penyebaran Mazhab Syiah di Mesir?
B. Seluruh penduduk Mesir mencintai Ahlul Bait, bahkan kecintaan yang luar biasa terhadap Ahlu Bait ini merupakan sumber penjagaan bagi penduduk Mesir dari paham Syiah. Sehingga tidak ada seorang pun dari penduduk Mesir yang menjadi Syiah, walaupun berbagai upaya yang telah dilakkan akan tetapi penduduk Mesir akan dapat mengatasinya.
A. Bagaimana Anda melihat kondisi di Suria?
B. Saya bukan politikus. Namun sebagai orang Arab Muslim, saya merasakan kepedihan yang mendalam akibat terbunuhnya orang-orang yang tidak bersalah di Suria. Hal ini juga yang saya rasakan saat melihat kondisi Irak saat ini. Kondisi tersebut tidak dapat diterima oleh Islam dan Muslimin.
A. Dengan terpilihnya Paus Paulus yang baru, apakah Anda melihat adanya celah bagi kembalinya hubungan antara Al-Azhar dengan pihak Vatikan, khususnya dialog?
B. Kami telah mengirim ucapan selamat kepada Paus Paulus yang baru. Terdapat sejumlah usaha serius dan layak diapresiasi dari pihak Vatikan. Dan saya berharap akan kembali terjadi dialog dalam waktu dekat dengan syarat Vatikan tidak mengeluarkan pernyataan yang telah kita maafkan dari sejumlah pimpinan Vatikan yang sebelumnya.
A. Ada yang berpendapat bahwa saat ini Al-Azhar memainkan peran politik untuk memperbaiki keretakan hubungan dengan beberapa negara?
B. Al-Azhar tidak memiliki agenda politik, akan tetapi kami membawa misi nasional yang berkaitan dengan kondisi di Mesir dan seluruh dunia Islam untuk tidak memberi kesempatan kepada para musuh umat ini agar tidak dapat bersatu.
A. Penerjemahan dari dan ke dalam bahasa-bahasa Barat mendapat atensi khusus dari Anda, apakah ada rencana dan strategi untuk memperbesar arah kebijakan ini di masa yang akan datang?
B. Selama tahun tiga puluhan abad lalu, Grand Shaikh Al-Azhar membentuk sebuah panitia untuk menerjemahkan buku-buku terpenting yang berbicara tentang Islam. Dan akhirnya telah diterjemahkan banyak buku tentang Islam oleh ulama-ulama besar Al-Azhar; seperti Dr. Muhammad Yusuf Musa, Abdul Halim An-Najjar, Muhammad Ghallab dan Abdul Halim Mahmud. Pada saat itu dilakukan penerjemahan dari bahasa Perancis dan Inggris, di samping menargetkan bahasa Italia dan Jerman. Sekarang, kita berusaha untuk mendinamiskan kembali aktifitas pemikiran dalam bidang terjemah ini yang akan ditangani oleh para profesor Al-Azhar yang memiliki kemampuan bahasa asing yang sangat baik, dengan terjemahan yang teliti, serta memberikan komentar terhadap isi pemikiran-pemikirannya yang boleh jadi bertentangan dengan hakekat Islam.
A. Sebagian pihak menerapkan apa yang disebut dengan hudud dalam beberapa kasus, jauh dari esensi dan ruh Islam, bagaimana anda melihatnya? Jalan apa yang bisa ditempuh untuk meluruskan kekacauan ini?
B. Penerapan hudud yang dilakukan oleh individu-individu adalah kesalahan, dosa dan kejahatan besar. Pemerintah yang direpresentasikan oleh Lembaga Kehakiman (atau Kejaksaan) adalah satu-satunya otoritas yang memiliki wewenang untuk melihat masalah-masalah pidana dan perdata (sipil). Hudud adalah salah satu bagian dari hukum pidana Islam, dan tidak seluruh hukum pidana Islam itu hudud. Untuk mempraktikkannya terdapat syarat-syarat yang jelas dari aspek sosial dan hukum, yang terkadang dalam beberapa kondisi syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi. Pemasalahan tentang hal itu diserahkan kepada pemerintah dan kehakiman untuk semua kondisi dan keadaan.
A. Wacana keislaman di dunia Islam selama beberapa dekade tidak mampu berkoeksistensi (mengikuti dan menjawab) dengan perkembangan baru yang terjadi, bagaimana cara aktualisasi wacana keislaman dalam berdialog dengan Barat, dialog antar agama, dan dialog antar peradaban?
B. Kami melihat bahwa aktualisasi wacana keislaman membutuhkan usaha keras dari individu-individu, usaha yang bersifat keilmuan berupa mempersiapkan para dai yang memiliki kapabilitas untuk menyebarkan dakwah Islam dalam skala internasional, dan usaha edukatif berupa mempersiapkan insan pers yang bekerja untuk kebaikan Islam dan maslahat negaranya. Serta mendirikan pusat informasi independen yang sesuai dengan perspektif Islam, sehingga medan publik yang ada tidak hanya dikuasai oleh orang-orang yang tidak mengetahui kebudayaan Islam, atau bersikap negatif terhadap kebudayaan Islam (Islamofobia).

No comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More